Pagi ini saya melakukan sedikit kegiatan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Biasanya -selama 6 bln terakhir ini- setelah membantu Sarah mempersiapkan keperluan sekolahnya, saya biasa melakukan ritual rutin untuk Sandra seperti menyiapkan obat, makan, susu, terapi, dllnya. Cuman karena Sandra masih terlelap (mskpun sesekali merengek minta ditemani) maka saya berkesempatan untuk lebih santai menonton acara TV yang kerap saya lewatkan di jam-jam ini.
I switched the channel to The Oprah Show, waktu itu menayangkan seorang perempuan muda berusia 20an menangis bernama Mindy yang dikisahkan berusaha melakukan tindakan bunuh diri karena ketidakmampuannya menahan penderitaan akibat “abuses” yang kerap dilakukan kekasihnya Bill Something (saya lupa nama belakangnya. Permasalahannya adalah Mindy sama sekali tidak mampu mengidentifikasikan betapa kacaunya hidup yang dijalaninya bersama Bill. Setiap Bill menghajarnya (bahkan samapi nyaris membunuhnya), Mindy dengan sisa-sisa tenaganya berussaha merangkul Bill kembali dan bersikap seolah-olah hal itu tdk pernah terjadi. dan dengan dalih bahwa Bill adalah satu2nya orang yang dicintai Mindy, maka Mindy berhasil menekan ketakutannya, penderitaannya bahkan menyembunyikan kehancurannya untuk tetap bersama Bill, memaafkan Bill, dan berharap dari waktu-ke-waktu Bill akan menyesali perbuatannya (hingga akhirnya dia mengandung anak Bill). Parahnya lagi, ketika ditanyakan apakah Mindy love herself, dia menjawab dengan yakin bahwa dia lebih mencintai Bill ketimbang dirinya sendiri atau di satu kesempatan Mindy menuturkan she hates herself.
Penganiayaan yang dilakukan Bill tidak hanya berbentuk penganiayaan fisik semata, namun juga penganiayaan verbal dan mental. Bill sering mengatakan betapa buruknya Mindy, betapa tidak berartinya Mindy karena menyebabkan Bill tidak bisa mencapai cita-citanya, dll yang (menurut Mindy juga) pelan-pelan membunuh Mindy.
Well, di negeri kita dewasa ini nampaknya akan ada dua sudut pandang yang agak bersebrangan mengenai hal ini. Pada beberapa pihak yang mungkin berpegangfan pada pemahaman fundamental, akan memberikan penelahaan sikap keteladanan Mindy menghadapi kaum lelaki (sebagai suaminya atau bakal suaminya) yang harus dipatuhi dan dimanuti bagaimanapun keadaannya. Keteladanan yang diambil kelompok ini terproyeksikan pada seorang Mindy yang patut diacungi jempol kartena mampu mengabdikan dirinya pada suaminya (bakal suami - meskipun ini masalah yang cukup jauh berbeda) untuk (seolah-olah) memperoleh kebahagiaan yang hakiki dalam hidupnya. Tentu juga dengan penekanan-penekanan bahwa kesalahan besar memang telah terjadi di sini, seorang lelaki/suami akan dilaknati habis apabila sampai menganiaya perempuan/istrinya. Namun kedua hal tersebut merupakan dua wacana yang berbeda bagi pemahaman ini. Pengabdian seorang perempuan/istri mutlak terhadap pasangannya/suaminya. Urusan abuses yang dilakukan Bill adalah kasus yang perlu penanganan lain berdasarkan pada pelanggaran yang Bill lakukan sebagai seorang manusia.
Pihak kedua adalah pihak yang lebih moderat dan mungkin cenderung skeptis. kelompok ini akan segera mengatakan bahwa kesalahan besar telah dilakukan oleh Bill dan juga Mindy yangmembiarkan dirinya diperlakukan sangat buruk berulang-ulang dengan bertopengkan Cinta (padahal cinta itu damai). Urusan hukum jelas akan menjadi penyelesaian utama bagi kelompok ini, dan Mindy berhak menentukan jalan hidup yang lebih baik serta bahkan mungkin berhak untuk melakukan balas dendam pada Bill. Mindy tolol dan bodoh adalah juga ungkapan yang dilontarkan Oprah padanya. membiarkan hidupnya kacau / messed up tak berkeseudahan, tapi pun Mindy mengeluh tiada henti ttg ketakutannya, kesakitannya hingga percobaan bunuh dirinya.
Belakangan, diketahui abhwa alam bawah sadarnya membiarkan Mindy teraniaya karena trauma masa kecil yang juga dilakukan ibunya terhadapnya (persis seperti yang dilakukan Bill terhadapnya). Mindy kecil yang tidak menemukan seseorang untuk berpaling saat kesakitan, atau mengangkat dirinya dari sofa saat dia menangis, bahkan dipatahkan cita-citanya utnuk menjadi penyanyi terkenal karena ibunya mengatakan, “U’re a good singer, but not great!! So, u won’t be a great singer !!”
Mindy kecil yang telah dibunuh oleh ibunya sejak dia bisa mengingat hidupnya, padahal dia harus berhdapan dengan kenyataan bahwa ibunya adalah orang yang “mencintainya”, dan tidak seorangpun mengatakan padanya bagaimana cara mencintai.
Bill dan Ibu Mindy adalah orang-orang yang harus ada (”dilahirkan untuk ada” menurut pikiran Mindy) baginya.
So guys,
Kembali pada 2 kelompok yang mungkin ada dan berbeda pandangan di atas, setidaknya demikian, menurut saya sebuah pandangan ideal mungkin bisa kita tarik benang merah diantaranya.
Dua insan yang disatukan oleh cinta seyogyanya adalah dua insan yang akan membawa kedamaian bagi diri mereka sendiri bahkan bagi lingkungan di sekitar mereka. Keterjalinan sebuah hubungan yang didasarkan oleh rasa cinta, kemudian saling memiliki dan mungkin akan mengikatkan dalam sebuah ikatan yang lebih “legal” (atau tidak) seharusnya mempunyai banyak dampak positif bagi semua pihak. Konon, cinta itu menebar warna, tawa bahkan ketenangan dan kedamaian. adanya kewajiban dan hak yang kemudian timbul dari sebuah kebersamaan adalah merupakan komitmen bersama yang sangat manusiawi. Sehingga masing-masing pihak akan saling menghargai hak dan kewajiban pihak lainnya.
Saya bukan orang yang menuntut kesetaraan dalam suatu hubungan laki-perempuan / suami-istri yang bergerak ke arah FEMINISME. saya meyakini bahwa benar adanya seorang istri harus malayani suaminya dan selalu memohon ridlo suaminya, untuk mencapai keridloan Sang Pencipta. Pun benar bahwa hak suami adalah untuk memperoleh pelayanan dan kasih sayang serta kesabaran dariistrinya … tentunya selain hak-hak lain dan kewajiban2 lain yang kelak bisa menyempurnakan hubungan mereka.
Hanya saja, banyak hal yang juga berasal dari keyakinan saya yang sangat tidak membenarkan adanya penganiayaan terhadap seorang perempuan/istri dari seorang laki-laki/suami. Untuk kebaikan semua pihak, adalah sah-sah saja bila pada akhirnya seseorang (perempuan) memutuskan untuk menjauhi pasangannya (bercerai atau berpisah). Bagaimana pun caranya, berakhir baik atau tidak … jika sudah pada tingkatan seperti itu (dengan tervisualisasikannya tindakan-tindakan kesewenang-wenangan, pelecehan dan penganiayaan serta ketidakmampuan untuk bertanggung jawab terhadap SESAMA MAKHLUK TUHAN), siapapun berhak untuk terlepas dari penderitaan, tak terkecuali seorang perempuan / istri.
“Cinta yang indah adalah cinta yang bisa membawa kedamaian bagi kita. Dan aku ingin memberikan cinta seperti itu pada orang-orang yang aku cintai” ( lvu svvm
)
Yaaahhh, tidak mudah memang … tapi setidaknya dalam Oprah Show pagi ini, Mindy bersyukur bahwa pada akhirnya dia menyadari ada orang yang membenarkan alasan penderitaannya, membuaka matanya, mendapatkan bantuan bahkan - amazing - Mindy akhirnya menyadari bahwa Bill tidak mencintainya, dan dia tidak perlu bersusah payah mempertahankan hubungan dengan orang yang tidak mencintai dan dicintainya.
“buat orang yang mengajarkan keluasan sebuah cinta dan ketulusan, bahwa pada akhirnya apapun itu yang
ada di depan, tidak akan pernah bisa menghapus apa yang telah diawali bila kita berpijak pada kehakikian arti
saling mengasihi. lvnmu svvm
:x
“